Katalog Persamaan Suku Cadang Sepeda Motor

Katalog persamaan spare parts sepeda motor harus dimiliki bagi yang menyelami usaha otomotif. Akan tetapi belum tentu kita semua punya waktu luang utk menuliskan nya di komputer yang kemudian hari bisa dicetak diatas kertas HVS.

Saya akan mencoba membantu kawan-kawan menuliskan beberapa persamaan alat sepeda motor untuk memudahkan penjual dan pembeli mengetahui alternatif alat yang sedang dicari.

Semoga dengan ini dapat memudahkan pekerjaan kawan-kawab. Silahkan tinggalkan masukan dan saran di kolom komentar. Karena katalog yang saya buat masih jauh dari kata sempurna. Maka dari itu saya minta maaf kalau terdapat kesalahan tulis atau bahkan salah persamaan.

Saudara tidak dipungut biaya utk mendownload katalog tersebut, karena kita sama-sama menyukai yang gratisan. 😁

Unduh katalog

Diskusi Umum

Setiap orang adalah pemimpin, dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggung jawabannya.

Begitulah kurang lebih bunyi Hadits Nabi Muhammad SAW.

Setiap pemimpin punya cara pandang yang berbeda-beda, dan cara pandang itulah yang akan menentukan arah langkah kakinya, keputusan-keputusannya dsb.

Sebagai seorang muslim, sudahkah kita tahu Bagaimana Islamic Worlview dari sebuah kepemimpinan?

Mari, datang dan belajar bersama
ISFI pada;

Hari: Jum’at
Tanggal: 5 January 2018
Waktu: 17.00 s/d Selesai
Topik: Membangun Kepemimpinan berbasis Islamic worldview, ilmu adab dan peradaban fadhilah.
Pemateri: Ir. H. Achmad Aprayoga Nurhono Msc.

Seorang Insinyur yang saat ini sedang bekerja sebagai salah satu senior di Perusahaan Minyak Malaysia (Petronas) itu berlatar belakang PII (Pelajar Islam Indonesia). Meski bidang yang digutinya bukan bidang agama, tapi Islamic Worldview yang beliau miliki tidak diragukan lagi.

Membahas Islamic Worldview bersama seorang ahli Geophysicist pasti akan sangat menarik.

Sekali lagi, mari belajar bersama, disela-sela kejenuhan materi ujian yang banyak itu 🙂

Agama Yahudi

Dari tiga agama langit, jumlah pemeluk agama yahudi adalah yang terkecil. Semestinya, jumlah pemeluk agama yahudi adalah yang terbesar jika dinilai dari urutan permulaan (yahudi, kristen dan islam).

Faktor “manusia pilihan” adalah jawabnya. Mereka sangat bangga dan mempertahankan konsep ini. Sehingga, mereka tidak menyeru ras dan bangsa lain utk memeluk agama yahudi.

Karenanya, apabila mereka mengajak ras dan bangsa lain kepada agama yahudi maka konsep “manusia pilihan” adalah batal.

Methodology of Ahmad Hijazy on the Study of Christianity and Jewish

The issue of Bible and Torah authenticity is one of the main topics of Christian-Judaism & Islamic debates besides the question of Jesus’ deity. There are discussion and analyses conducted to proof the corruptions of the Gospel by Muslim scholar.

Ahmad Hijazy al-Saqqa was one of important Muslim scholars who devoted entire of his life to give contribution on the study of religion other than Islam. His sincerity toward this field of study was illustrated through his educational background. He had many writings that argued  against the fundamental belief both of Christianity and Jewish. Doing analysis on the scripture has its difficulty. In order to construct our  analysis regarding Ahmad Hijazy in his writing we find that he has the tendency to use methodology of disputative.

  1. Disputative on Bible

In the scripture of Christianity, Ahmad Hijazy employed disputative methodology in his writing, Page 213 of book al-adillah al-kitabiyyah ‘ala fasad al-yahudiyyah wa al-nashraniyyah in particular.[1] It is told that in John: 6  6-15 Jesus feeds the five thousand[2]

1 Sometime after this, Jesus crossed to the far shore of the Sea of Galilee (that is, the Sea of Tiberias),

2 and a great crowd of people followed him because they saw the signs he had performed by healing the sick.

3 Then Jesus went up on a mountainside and sat down with his disciples.

4 The Jewish Passover Festival was near.

5 When Jesus looked up and saw a great crowd coming toward him, he said to Philip, “Where shall we buy bread for these people to eat?”

6 He asked this only to test him, for he already had in mind what he was going to do.

7 Philip answered him, “It would take more than half a year’s wages[a] to buy enough bread for each one to have a bite!”

8 Another of his disciples, Andrew, Simon Peter’s brother, spoke up, 9 “Here is a boy with five small barley loaves and two small fish, but how far will they go among so many?”

10 Jesus said, “Have the people sit down.” There was plenty of grass in that place, and they sat down (about five thousand men were there).

11 Jesus then took the loaves, gave thanks, and distributed to those who were seated as much as they wanted. He did the same with the fish.

12 When they had all had enough to eat, he said to his disciples, “Gather the pieces that are left over. Let nothing be wasted.”

13 So they gathered them and filled twelve baskets with the pieces of the five barley loaves left over by those who had eaten.

14 After the people saw the sign Jesus performed, they began to say, “Surely this is the Prophet who is to come into the world.”

15 Jesus, knowing that they intended to come and make him king by force, withdrew again to a mountain by himself.

 

Ahmad Hijazy highlighted  in this phenomenon that when crowd of people saw the miracle of feeding five thousand people  or the miracle in little blessed food they said “Surely this is the Prophet who is to come into the world” since that they assumed Jesus was the promised messiah on book Deuteronomy:18.

Ahmad Hijazy argued that when Jesus went up to mountainside to tell the Israeli that Jesus was not the messiah they are waiting for as written on book Deuteronomy: 18 but that is Muhammad SAW. This told that the messiah is not coming before prophet Isa. Since the sign of the coming prophet should be king and obeyed leader.

  1. Disputative on Torah

Torah is compilation from several sources different streams of literary traditions that was composed and collected over the course of the biblical period (ca. 1200 B.C.E. to ca. 400 B.C.E.). In this perspective, is an amalgam of the works of different authors or schools, it contains an abundance of factual inconsistencies; contradictory regulations; and differences in style, vocabulary, and even theology. However, Torah is the most comprehensive scripture in the history of Israelite that consist of law for its people.

According to Ahmad Hijazy in his book entitled naqd taurah (Criticism of the Torah) on page 230, he gave the illustration on how Torah being corrupted. As he quoted from Torah:

قال كاتب التورة: إن الله خلق آدم بعدما خلق السموات والأرض، وخلق حواء. زغرس الرب جنة ووضع فيها آدم هو وحواء ثم خلق الله كل الحيوانات وكل الطيور، واحضرها إلى آدم ليري ماذا يدعوها؟ وكل ما دعا به آدم ذات نفس حية فهو اسمها. فدعا آدم بأسماء جميع البهائم وجميع حيوانات البرية.

وقال الكاتب: إن الله خلق حواء من ضلع من اضلاع آدم وهو نائم. وإن الله أوصى آدمم وحواء بان لا يأكلا من الشجرة لئلا يهلكا. و أنهما عصيا الأمر و لما عصيا. قال لآدم: لأنك سمعت لقول امرأتك وأكلت من الشجرة التي اوصيت قائلا: لا تأكل منها: ملعونة الأرض بسببك. بالتعب تأكل منها، كل ايام حياتك، وشوكا وحسكا تنبت لك عشب الحقل. بعرق وجهك تأكل خبزا، حتى تعود إلى الأرض التي أخذت منها، لأنك تراب وإلى تراب تعود.

Ahmad Hijzay look up and saw the exclusion word “devil” from what Jewish scholar write on Torah of Moses, instead its role in provoking Eve and Adam to eat that fruit. Why? Ahmad Hijazy argued that the exclusion of word “devil” is not accidental. Because the writers of Torah have such a meeting before they were going to write the scripture.[3] Ahmad Hijazy wrote confidently on book naqd taurah page 232 that there must be rationale cause.[4] As we know that during that time Israelite was several time under the oppression of Tyrant Empire and was exiled from their land, Kan’an. So, we can assume that purpose of this kind exclusion was to establish the mentality of people of Israelite to be daredevil people or not afraid from any oppression.

[1] Ahmad hijazy, al-adillah al-kitabiyyah ‘ala fasad al-nasraniyyah wa al-yahudiyyah, dar al-fadhillah.

[2] Feeding five thousand.  https://www.biblegateway.com/passage/?search=John+6

[3] Ahma Hijazy, Naqd Taurah, dar al-jayl, Beirut. P. 232

Sepakat Berbeda; Mungkinkah?

P8100251.JPG

(Kuala Lumpur, 10/8/2017) – Mahasiswa Indonesia yang memilih menetap di kampus IIUM beramai-ramai memadati ruangan ADM LT 1 IIUM. Dialog antar ormas islam yang ada di IIUM dalam rangka Halal bi Halal dan memperingati hari kemerdekaan republik Indonesia.

Dialog ini diselenggarakan oleh ISFI (Islamic Studies Forum for Indonesia). Dan Putri Silaturahmi, mahasiswi S2 jurusan ilmu sociologi adalah ketua panitia berhasil mengawal terlaksananya acara.

Ormas-ormas tersebut adalah PCI IMM Malaysia, KMNU Malaysia, PERSIS, dan FOTAR.

Menurut Rajiv, dialog seperti ini belum pernah ada sebelumnya di kampus IIUM.

Pembicara dari masing masing ormas mampu membuat semua peserta yang tidak kurang dari 50 orang tersebut menyimak hingga azan maghrib berkumandang.

Dialog direncanakan mulai setelah sholat ashar (pukul 17.00), sempat terkendala hingga pukul 17.45 dikarenakan hujan lebat mengguyur kampus.

Dr. Muntaha Artalim Zaim, pembimbing ISFI dalam sambutannya menyambut baik terwujudnya acara ini. Indonesia ini sangat besar, kalau Muhammadiyah saja yang mengelola indonesia mungkin akan kewalahan.

Muasal Novel “Tenggelamnya Kapal Van Der Wijk”

WhatsApp Image 2017-08-08 at 10.00.46.jpeg

Gambar diatas adalah rumah keluarga Ibu Robi’ah istri pertama pak Zainuddin Fanani dia anak bangsawan Minang maklum beliau Salah satu Tri murti yg paling ganteng . Kisah Cintanya sangat berliku maklum adat minang zaman itu masih kuat
kawin antar suku sangat tabu.

Rumah itu di Payakumbuh. Waktu saya datangi, di dalam rumah itu masih tergantung foto2 pernikahan Pak Fanani. Yg tentu saja didampingi Pak Zar.. Bisa dibayangkan, menikah di tanah perantauan dengan hanya diantar adik saja sebagai wakil keluarga…
Di suatu pagi di kota Padang, seperti biasa di rumah pasangan muda itu telah tersaji secangkir kopi panas dan sebuah lipatan koran yg baru diantar….
Namun saat membuka halaman pertama, lelaki muda itu sontak terkejut dan termangu. Seolah tak percaya berita yg menjadi tajuk utama koran pagi itu. Ya, koran itu memberitakan tenggelam nya Kapal Van Der Wijk. Kapal yg baru beberapa pekan lalu dinaiki adiknya pulang ke jawa, dan ia bersama kawan dekatnya ikut mengantar ke pelabuhan teluk bayur..
Ia mendesah dengan nafas dalam tak tahu apa yg harus dilakukan.. Ia hanya membayangkan sosok adik yg sangat dicintainya itu ikut tenggelam, yg berarti tenggelam pula sebagian cita cita keluarga untuk menjadi bagian dari perjuangan besar bangsa ini….

Termangu dan tak berkutik, hingga membuat kawannya yg biasa datang pagi itu ter heran heran. “Ada apa gerangan..?” Pikirnya dalam hati. Sebagai seorang junior, kawannya ini pun ragu menanyakan perihal apa yg sedang menimpa sahabat baiknya ini. Ia pun hanya bisa melihat lihat dan mencoba menerka apa yg terjadi..

Lelaki yg sedang termangu memegang koran itu adalah Zainuddin. Dan kawannya yg datang itu tak lain adalah Hamka. Dua sobat seperjuangan ini memang sangat kental.

Saat Hamka melirik ke bawah, terlihat tulisan besar di headline koran itu; berita tentang tenggelam nya Kapal Van Der Wijk..
Kali ini Hamka ikut menghela nafas dalam. Ia faham kini mengapa Zainuddin sepertinya kaku membisu bagai sedang disamber petir.. Hamka juga ikut mengantar Zarkasyi ke teluk bayur saat itu. Pastilah Hamka juga ikut merasakan apa yg dirasakan Zainuddin.

Namun dengan kepala dingin, Hamka memungut koran itu dan membacanya secara perlahan; kata demi kata..

Sesaat kemudian Hamka dengan wajah cerah berusaha menenangkan sahabatnya itu.
“Kakanda.. Sepertinya adinda Zarkasyi selamat dari musibah ini..” Kata Hamka dengan senyum yg setengah dipaksa kan.
“Hah.., bagaimana kau tahu..?” Tanya Zainuddin yg rupanya baru teraadar ada kawan dekatnya yg datang.
“Lihat, Kapal ini tenggelam dalam perjalanannya dari Tanjung perak menuju teluk bayur. Sementara adinda Zarkasyi naik Kapal ini dengan tujuan Tanjung perak..”
“Coba berikan koran itu padaku…” Kata Zainuddin menyerigai..

Setelah membaca dengan seksama, ia pun berpikir kembali dan berkata;
“Seharusnya telegram atau kartu pos dari Zarkasyi sudah saya terima jika is sudah sampai Surabaya. Tapi sampai saat ini belum ada telegram maupun kartu pos yg datang…”

Hamka punya ide untuk menyelesaikan keraguan kawannya ini. Ia mengajak ke kantor telepon untuk menghubungi redaksi koran itu untuk dapat konfirmasi dari wartawannya yg di jawa…
Sementara itu di tempat terpisah, di pelabuhan Tanjung perak Surabaya…

Seorang muda dengan koper kulit yg lusuh terlihat turun dari tangga Kapal. Ia adalah Zarkasyi yg baru pulang dari perantauan panjangnya di tanah seberang, tanah Minang.. Ia begitu bersemangat mendarat di kota yg sangat nostalgik baginya. Di kota inilah lahir cita cita para abang nya untuk membuat lembaga pendidikan modern. Karena di kota inilah 10 tahu yg lalu abangnya, Ahmad Sahal ikut konferensi ulama dan bertemu KH Wahab Hasbullah, yg dari pertemuannya ini kemudian lahir tekad untuk mendirikan lembaga pendidikan tadi. Ia pun tak tahan untuk sekedar melihat lihat kota terbesar di Jatim itu untuk sekedar menelisik jejak perjuangan abangnya itu. Setelah puas mengelilingi kota Surabaya, ia pun kembali harus berjuang menuju kampung halamannya yg sudah begitu lama ia tinggal.. Perjalanan Surabaya Gontor untuk waktu itu bukan lah persoalan yg mudah. Ia harus berganti banyak kendaraan dari satu kota ke kota lainnya untuk sampai tempat tujuan.. Setelah dua hari menempuh perjalanan pulang, ada sesuatu yg ia lupa. Ya, seharusnya saat masih di Surabaya ia kirim telegram atau kartu pos ke abangnya di Padang seperti janjinya saat menaiki Kapal di teluk bayur. Saat itu ia sudah di kota madiun. Selagi ingat, Zarkasyi pun bergegas menuju kantor pos di dekat alun alun madiun sebelum menuju desa kelahirannya yg sudah sangat ia rindukan….
Kembali ke Padang..

Saat dua sahabat itu bersiap keluar ingin menuju kantor pos atau kantor telepon, tiba tiba ada tukang pos datang membawa telegram. Ditujukan untuk kakanda Zainuddin.
Zainuddin langsung menyambar telegram yg sebenarnya hanya berisi beberapa kata saja. Namun penting maknanya bagi dia. Dia buka telegram itu dan dia baca;
Alhamdulillah adinda telah tiba. Selamat. Maaf. Baru bisa kirim dari madiun.
Ttd.
Zarkasyi.

Kali ini Zaenuddin sangat lega. Ia menengadahkan wajahnya ke langit sambil menggemggam telegram itu di dadanya.

“Kita tidak jadi pergi..” Kata Zaenuddin kepada kawannya. Ia kembali masuk rumah dan diikuti kawannya. Koran yg sempat membuatnya kaget tadi, dipakai untuk alas sujud syukur… Hamka termangu ikut terharu memandangi wajah kawannya yg penuh syukur itu..
Terlintas kemudian di benak Hamka untuk menulis sebuah roman berjudul “Tenggelamnya Kapal Van Der Wijk” dengan tokoh utama bernama Zaenuddin….

(sumber: Group WhatsApp IKPM Malaysia)

IKPM Malaysia Sambut KH Hasan Abdullah Sahal di Kampus IIUM Gombak

photo_2017-07-25_00-18-27

(Kuala Lumpur) – Sekitar 100 lebih alumni dan wali santri Pondok Modern Darussalam Gontor menghadiri acara Silaturrahmi bersama KH Hasan Abdullah Sahal di gedung KENMS IIUM(23/07/2017).

Acara yang di MC-i oleh Ridho Ardiansyah alumni tahun 2013 dapat berjalan dengan khidmat dan terencana, juga para hadirin dengan khusyu’ menyimak lantunan kalam illahi yang di bacakan Ahmad busyiri alumni 2011 selanjutnya dengan serempak melantukan Hymne Oh Pondok ku.

Bapak pimpinan imbau para alumni untuk menjadi “orang yang bertitle dan berkualitas, tidak hanya bertitle tapi tidak berkualitas”.

Dai Cina (1): Masuk Islam Bukan Bererti ‘Masuk Melayu’

Sepenggal senja masih saja mengintip di ufuk langit Kuala Lumpur. Seperti biasa, ‘ritual’ saya dan kawan-kawan ketika Ramadhan kemarin adalah selalu menyempatkan pergi berbuka di masjid al-Syarif Gombak yang terletak di pertigaan Greenwood itu. Selepas maghrib, mataku sayup-sayup. Padahal, dengan puasa, biasanya mata saya berbinar-binar ketika malam hari. Badan terasa ringan, sementara pikiran juga cemerlang. Pada saat seperti itu, diajak berfikir apapun, otak akan berkata ‘yes’. Entah, mungkin karena hidangan berbuka yang terlalu ‘wah’, akhirnya aku tak berdaya. Para jamaah lain di sekelilingku terlihat buram.

Mataku menjadi semakin berat ketika sesi ceramah selepas Isya. Bagaimana tidak, intonasi ceramah yang disampaikan sangat monoton. Dari awal hingga sebelum akhir, setiap kata diucapkan dengan nada yang datar lalu diakhiri dengan tekanan agak tinggi pada kata paling akhir. Tidak hanya satu kalimat, tapi hampir semua kalimat yang ia ucapkan memang demikian adanya. “Hmhm..macam mana penceramah macam nih boleh dijemput?” tanyaku menggerutu. Sepanjang Ramadhan di Malaysia, hampir saya tidak pernah menjumpai penceramah dengan gaya monoton seperti ini. Dalam beberapa menit, aku tenggelam dalam kantuk.

“Hahhaaa…”

Aku terjaga demi mendengar gelak tawa yang berderai dari para jamaah tarawih. Kupandang ke belakang, aku heran. Semua jamaah ternyata antusias mendengar. “Memangnya, apa yang menarik dari penceramah ini ya? Bagaimana mungkin ceramah dengan gaya monoton seperti ini, ternyata disukai oleh para hadirin?”

Aku mencoba mendamaikan pikiranku. Mungkin saja ada hal lain yang aku tak tahu. Dari logat berbicara, memang hampir tidak mungkin dia orang Melayu. Tapi dari paras wajah, dia tidak jauh beda dengan kebanyakan Melayu. Berkaca mata, berpeci bundar, dengan setelan baju kurung berwarna biru polos. Satu-satunya yang membedakan adalah beliau memakai celana. Satu hal yang tidak lazim memang, sebab hampir semua penceramah memang memakai jubah panjang.

“Apa dia orang Cina ya?” Aku menduga keras. Aku mencoba mengaitkan-ngaitkan dengan logat salah satu aktor Cina di beberapa film dan sinetron. Memang agak mirip. Aksen akhir kalimatnya benar-benar berbeda. “Tapi, rasanya bukan orang Cina lha dia,” tanyaku tetap tidak percaya.

“Terimalah salam dari kami, saudara baru, kawan baru, Wassalamu alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.” Barulah pada akhir ceramah, jelas benar bahwa ia memang orang Cina. Entah dia tidak menjelaskan apakah sejak lahir sudah menjadi Muslim ataukah baru masuk Islam belum lama ini. Tapi dari materi yang disampaikan, jelas bahwa ia bukanlah Muslim biasa. Kenyataan bahwa ia diundang untuk ceramah malam itu juga pertanda bahwa ia mempunyai ilmu lebih dari cukup dari kebanyakan Muslim lain.

“Saya tadi baru datang dari Majlis berbuka dekat Cheras,” tuturnya mengabarkan. Ia memang sedang giat mendekati para saudaranya etnis Cina untuk diajak masuk Islam. Majlis berbuka yang disebutkan tadi diadakan khusus untuk para non-Muslim Cina. Tempat Majlis memang bukan di dalam masjid, tapi diletakkan di samping masjid. Di situ juga diletakkan lapangan bola keranjang. “Orang Cina tuh suka sangat bermain bola keranjang Tuan-tuan. Ramai yang datang. Ada hampir 100 orang,” tuturnya berapi-api. Dengan cara itulah, perlahan-lahan ia mendekati saudaranya yang Cina.

Ia juga menceritakan bahwa Muslim Cina di Malaysia sekarang sedang giat mendirikan masjid. “Ada empat masjid Cina dekat Malaysia Tuan-tuan,” suaranya lantang. “Satu di Johor, di Melaka, di Rantau Panjang Kelantan, dan satu lagi di Perlis.” Sekarang ini juga sedang dibangun masjid Cina di daerah Klang.

Ia menegaskan bahwa untuk berdakwah terhadap orang Cina, maka salah satu syarat utama adalah mengetahui karakter orang Cina. “Tuan-tuan sudah sampai Cina belum?” ajaknya berdialog dengan para hadirin. “Kalau Tuan-tuan belum tahu macam mana orang Cina punya karakter, maka bacalah buku ini.” Rupanya ia juga seorang penulis. Salah satu bukunya adalah ‘Biar Orang Cina Pimpin Islam’. Di situ ia menyebutkan asal-usul bangsa Cina dan menguraikan penyebab mengapa dakwah terhadap orang Cina, khususnya di Malaysia, sering kali menemui kegagalan. Dalam salah satu perenggan buku tersebut, disebutkan:

“Masuk Islam bukan bererti ‘masuk Melayu’. Lantaran stigma yang membelenggu ini, ramai golongan bukan Melayu yang menolak habis-habisan untuk mendekati Islam. Mereka takut bangsa dan adat resam mereka terpaksa dibuang jauh-jauh lantaran perlu menukar status diri kepada Melayu.”

Lebih jauh ia menjelaskan bahwa orang Cina adalah mereka yang sangat menjunjung tinggi adat istiadat nenek moyang mereka. Bahwa agama masuk ke dalam kehidupan mereka merupakan fakta yang tidak bisa dipungkiri. Meski demikian, agama tersebut tidak lantas mampu mengubah adat istiadat tersebut. Bahkan justru agama tersebutlah yang menyesuaikan atau bahkan disesuaikan dengan adat tersebut.

Sampai di sini, saya semakin menyadari sedemikian jauh perbedaan antara tiga etnis mayoritas di Malaysia; Melayu, Cina, dan India. Beruntung kita punya bahasa Indonesia yang sedemikian siginifkan. Setiap orang dari kecil hingga tua, dari yang paling kaya hingga miskin, dari ujung Aceh hingga Papua, semuanya mampu menggunakan dan menjiwainya.

Kontrasnya perbedaan tersebut tidak selamanya berarti negatif. Minimnya kasus kekerasan antar agama – jika dibandingkan dengan Indonesia – tentu menunjukkan bahwa perbedaan tersebut ternyata mampu dirawat dengan baik. Sepanjang perjalanan saya ke Jakarta – meski hanya tidak sampai lima kali kot – saya tidak mudah menemukan kuil-kuil sebanyak saya menemukannya di Selangor atau Kuala Lumpur. Padahal, Selangor adalah daerah dengan hampir 60% Muslim. Tentu Kuala Lumpur tidak seluas Jakarta. Tapi permisalan parsial saya tadi setidaknya menyampaikan gejala awal; ternyata Hindu, Kristen, dan Islam bisa saling berdiri di satu kota ‘Muslim’ bernama Kuala Lumpur. Pada titik inilah, toleransi keagamaan Malaysia bisa dianggap sebagai salah satu percontohan. (Bersambung) (Sumber: Muhammad Abdul Aziz )

Dr Karel A. Steenbrink

Malam tadi saya lupa bahwa Pak Elit, kawan serumah saya, yang memang direncanakan balik KL malam itu, ternyata tidak membawa kunci rumah. Praktis, ketika saya sampai rumah, saya geleng-geleng kepala: ada seonggok koper hitam, berdiri persis di depan pintu, tanpa ada sesiapun yang menjaganya, tiada pula pesan padanya. “Kalau ini [koper] dicuri gimana?” Untungnya, kejadian ini di Sungai Cincin, kampung yang relative aman.

Merasa ‘berdosa’ dengan kekhilafan ini, selepas subuh tepat, saya langsung menuju ‘Rumah IKPM’ – sesuai SMS-nya – yang memang tidak jauh. Kutemukan di sana sang doctor candidate UTM (Pak Elit), Pak Tumin, dan satu lagi alumni Gontor 2004 yang akhirnya tebakanku tepat; Pengurus Dapur.

***

Tidak kalah penting dari perjumpaan subuh tersebut, saya menemukan juga satu buku – nampaknya – milik Pak Hamdi berjudul ‘Beberapa Aspek tentang Islam di Indonesia Abad ke-19”. Yang menarik, penulisnya adalah seorang sarjana Belanda terkenal, Karel A. Steenbrink. Sang dosen Utrecht University ini memang tidaklah terlalu asing. Beberapa kali saya menjumpainya dalam deretan sarjana di Google Scholar, juga dalam pelbagai jurnal ilmiah seperti Studi Islamika UIN Jakarta. Yang lebih menarik lagi, sang penulis ternyata menulisnya langsung dalam bahasa Indonesia.

Bahwa ada sekian orientalis yang pandai dalam beberapa bahasa di luar mereka, tentu kita semua familiar. Tapi mendapatkan bukunya secara face-to-face tentu memberikan sensasi lebih pada fikiran saya. “Ternyata benar bahwa mereka [para orientalis] tersebut pandai dalam berbagai bahasa.”
Yang ada dalam fikiran saya, “Kok sempat-sempatnya ya Dr Steenbrink itu belajar dan mendalami Islam dan tradisi ketimuran dengan sedemikian detailnya. Apa mereka sudah memahami sejarah bangsa mereka sebaik pemahaman mereka terhadap tradisi kita. Mengapa kita yang justru bangsa Indonesia ternyata justru tidak lebih pandai dari pada mereka yang justru dilahirkan bukan di bumi bernama Indonesia ini. Apa mereka ini kurang kerjaan ya; dan sederet pertanyaan lepas lainnya.”

Orientalis sekelas Hurgronje juga; mengapa ia sampai tega menghabiskan sebagian umurnya (hanya) untuk menjadi murid Syeikh Nawawi al-Bantany di Makkah; mempelajari ilmu yang bahkan ia sendiri tidak meyakini kebenarannya. Atau mungkin ia sudah meyakini kebenarannya, tapi tidak mampu mengamalkannya. Ia bahkan sempat mengganti namanya menjadi Abdul Ghaffar. Toh, meski demikian, Islam yang ia cari tak kunjung juga ia temukan.

Pada titik ini, Prof Rasjidi yang memberikan sambutan terhadap karya Steenbrink ini, mengingatkan, “Syarat untuk menulis sejarah adalah penghayatan, sikap bersatu dengan apa yang ditulisnya.” Yang terjadi adalah Dr Steenbrink ini merupakan seorang teolog Kristen yang karena itu penjelasannya tidak dapat diterima dengan rasa puas. Prof Rasjidi mengibaratkannya nasi goreng yang lezat tetapi banyak tercampur gabah.

***

Dan ternyata, Pak Elit, kawan saya yang sangat tekun ini, yang saya demikian banyak belajar, berintrospeksi, dan berkaca padanya, sudah kembali ‘ngingkung’ dengan buku-bukunya. Saya heran dengan satu sosok ini; belajar dari pagi hingga petang, seorang diri, di dalam kamar, no music, no extensive use of internet, not getting asleep, dengan bekal sebatang pensil untuk menulis komen-komen kecil; tapi jangan tanya ritualnya. Wallahu a’lam. (Penulis Muhammad Abdul Aziz)

Ikhlas Adalah Tauhid

Al ikhlash, surat ke 112 di dalam al Quran. sebenarnya apa kaitan antara judul dengan isi surat ini dan penggunaan kata ikhlas dalam kehidupan sehari-hari.

ketika saya melihat quran dengan bahasa inggris, al ikhlas diartikan dengan unity. arti ini justru menambah kacau pertamanya.

Tapi perlahan mulai memahami nya. Pengertian al ikhlas bisa dipahami dengan merujuk beberapa arti di dalam kamus bahasa arab dan buku tafsir.

Ikhlas arti nya dalam mu’jam ma’any adalah mensucikan dan membersihkan.

Dalam KBBI ikhlas dimaknai dengan memberikan atau menyerahkan dengan tulus hati; merelakan. 

isi kandungan surat al ikhlas adalah tauhid.

Dan sehari-hari kita terbiasa mengucapkan ikhlas, tapi tidak tahu apa kaitan dengan surat ke 112 tadi.

Saya akhirnya sedikit mengerti, ketika sekilas menonton film cahaya cinta di pesantren.

Apapun yang kita perbuat harus diniatkan dengan hati yang tulus karena Allah ta’la dan itu adalah tauhid.

Nagari Batipuah

Ooo ini ya negeri batipuah yang ada dalam novel buya Hamka “tenggelamnya kapal van der wijk” yang kemudian diangkat ke layar lebar dengan judul yang sama, gumam saya ketika mudik ke Padang Panjang.

Entah berapa berapa ratus kali sudah melewati batipuah, ini kali pertama pikiran melayang ke novel yang melegenda tersebut. tidak saja istimewa untuk orang minangkabau, orang jawa dan melayu pun juga sangat mengagumi karya buya.

Bahkan seorang mahasiswi pun dijuluki hayati nya PPI IIUM, jangan tanya saya siapa. sebut saja nama nya rahmi.

ingin behenti sebentar mengambil photo di batipuah sebelum sampai ke Padang Panjang, tapi tidak untuk kali ini.